Saturday, September 3, 2016

Catatang tentang Liwath



Catatan tentang Liwath*)

Tidak dapat dipungkiri bahwa tiap manusia yang hidup di alam dunia ini memiliki karakteristik, perilaku, dan nilai yang berbeda-beda. Hal inilah yang kemudian memberikan keragaman hubungan, perilaku, bahkan keragaman budaya suatu bangsa. Namun demikian, tiap karakteristik dan perilaku dari manusia sewajarnya mengikuti budaya, nilai, norma yang membawa kemaslahatan. Islam telah mendeskripsikan keragaman manusia yang ada di dunia ini, dan Islam juga menawarkan untuk menjadi bingkai yang ‘membungkus’ keragaman tersebut. Tujuannya adalah untuk mengarahkan karakteristik manusia menjadi pribadi yang shalih, taat dengan agama, berakhlak mulia, produktif dan berbagai manfaat lainnya. Salah satu bentuk keragaman yang muncul di tengah ummat saat ini adalah perilaku homoseksual (liwath) sebagian orang. Di Kanada, jumlah kaum homoseksual mencapai 1% dari keseluruhan penduduknya. Selain itu berdasarkan hasil salah satu penelitian tahun 2002, sekitar 4,4% dari masyarakat Amerika pernah melakukan hubungan homoseksual. Nau’dzubillah.

Suatu fakta menarik untuk dikaji, bahwa di saat era globalisasi telah melanda sebagian besar negara di dunia, ternyata perilaku segelintir orang malah semakin mundur dan berkiblat dengan perilaku di era masa lalu. Kita tentunya telah mahfum dengan fakta sejarah, yakni perilaku kaum Nabi Luth yang akhirnya diberikan laknat oleh Allah SWT.

Beberapa ahli mendefinisikan homoseksual secara beragam. Menurut Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra mengartikan homoseksual adalah kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Faktor penyebab dari homoseksual ini pun beragam.

Pertama, faktor biologis hormonal. Sebagaimana dipahami bahwa hormon testosteron memperkuat ciri kelaki-lakian sedangkan hormon progesteron memperkuat ciri kewanitaan. Proporsi produksi hormon setiap orang berbeda-beda serta akan menentukan ciri gender dan perilakunya. Namun demikian faktanya, faktor ini juga didukung oleh faktor lainnya yang menentukan perilaku seksual dari masing-masing orang.

Kedua, faktor psikologis. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku yang diterima sejak masa kecil sehingga membentuk perilaku masa dewasa. Fase usia 3-5 tahun merupakan fase dimulainya anak mengalami perkembangan identitas gender. Dalam fase ini, tiap anak diharapkan mampu menemukan identitas gender sesuai dengan fitrah penciptaannya.

Ketiga, faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini mungkin disebabkan pergaulan, pembiasaan, dan lingkungan sekitar yang membentuk kepribadian dan identitas gender.

Lalu, bagaimana Islam memandang masalah homoseksual (liwath)?
Dalam pandangan Islam, perilaku homoseksual ini telah diwartakan Allah melalui Kisah kaum Nabi Luth yang mendapatkan laknatNya. Beberapa ayat yang menerangkan masalah penyimpangan ini, antara lain
" Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (homoseksual) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas," (QS. Al-A'raaf: 80-81).
"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)," (QS. An-Naml: 55).
“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar," (QS. Al-Ankabuut: 28-29)
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 82-83)

Hadits-hadits Rasulullah SAW juga selaras dengan ayat-ayat Al Qur’an dalam memandang masalah homoseksual (liwath).
"Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan atas ummatku adalah perbuatan kaum Luth (homoseksual)," (HR at-Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas r.a, "Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, 'Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth'," (HR. Ahmad).
Hadits Ibnu Abbas r.a, beliau berkata, Rasulllah saw. bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah, baik pelaku maupun yang dilakukan terhadapnya” (HR. Abu Daud)

Hadits dan ayat-ayat Al Qur’an telah menyampaikan dengan jelas bagaimana Islam bersikap terhadap pelaku dan perilaku homoseksual (liwath). Di sisi lain, perilaku penyimpangan ini juga merupakan bentuk ketidaksyukuran terhadap nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah.

Walaupun telah ditegur dengan teguran jelas dan keras, sebagian orang malah bangga berperilaku menyimpang. Bahkan beberapa bulan lalu sempat ada rencana untuk mengadakan konferensi kaum yang berperilaku menyimpang tersebut. Dengan izin Allah, serta ikhtiar dari orang-orang yang masih peduli dengan nilai agama dan budaya bangsa, rencana konferensi akhirnya dibatalkan.

Masalah homoseksual (liwath) merupakan masalah yang perlu dicarikan solusinya. Jika diibaratkan sebagai penyakit, maka homoseksual (liwath) perlu dicarikan obat penawar untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meluruskan kembali perilaku penyimpangan seksual yang saat ini menghinggapi segelintir orang, antara lain:

Pertama, mendekatkan diri kepada Allah dan nilai-nilai agama. Proses ini dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, aktif di kajian-kajian keagamaan untuk menuntut ilmu syar’i. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat menuntun perilaku tiap manusia sesuai dengan nilai-nilai agama. Bila dirasakan telah menyimpang, maka nilai-nilai agama diharapkan dapat meluruskan kembali perilaku tersebut. Insan yang paham dengan nilai-nilai agama sudah seharusnya berperilaku sesuai dengan koridor agama, dan menjauhi segala kemaksiatan yang mengundang adzab dari Allah.

Kedua, bergaul dengan lingkungan yang dapat memulihkan kelainan penyimpangan. Lingkungan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kebiasaan, akhlak, perilaku dan nilai seseorang. Sehingga jika ingin sembuh, maka mencari lingkungan yang kondusif untuk rehabilitasi adalah salah satu solusi.

Ketiga, mengikuti terapi psikologis. Beberapa ahli memasukkan kelainan ini ke dalam kajian psikologi. Oleh karena itu, pelaku kelainan seksual dapat memanfaatkan terapi psikologis untuk memperbaiki kondisi psikologis dan meluruskan kembali penyimpangan yang terjadi dalam diri dan perilakunya. Namun demikian, hal ini hanya merupakan sarana (wasilah) untuk mengembalikan perilaku. Poin yang paling utama adalah adanya kemauan kuat dari masing-masing pribadi untuk memperbaiki diri, bertaubat mohon ampun kepada Allah, serta berperilaku sesuai dengan fitrah hakikat penciptaannya.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menggerakkan hati untuk senantiasa memperbaiki diri, meluruskan perilaku guna mencapai predikat makhluk mulia, makhluk yang mampu mensyukuri karunia dari Allah, dan mau belajar dari kesalahan serta penyimpangan yang telah dilakukan. Kita tentunya tidak mau ummat dan bangsa ini ditimpakan azab dan laknat dari Allah akibat penyimpangan (kemaksiatan) yang dilakukan oleh segelintir orang.
Wallahu a’lam
Maraji’ :
Al Qur’an Al Karim
Al Hadits
Beberapa sumber bacaan

Tangerang Selatan, Mei 2010
*) Oleh Fithratuddin

Tulisan ini dimuat di media Insan Kamil Masjid Baitul Maal STAN Jakarta

Thursday, July 28, 2016

Ibu, Engkaulah Pelabuhan Hatiku

22 Desember adalah hari yang diperingati oleh sebagian besar bangsa kita sebagai hari ibu. Hari yang tidak hanya sekadar seremonial belaka, tetapi hari yang setiap harinya harus kita peringati sembari berbakti kepada sang ibunda tercinta.

Yah, Ibu, sosok manusia yang pertama kali menyapa ku ketika hadir di dunia. Sosok wanita, yang tak henti-hentinya berada di belakang saya, di saat saya butuh dukungan dan tempat bersandar. Beliau berada di depan, ketika saya butuh panduan dan bimbingan serta nasihat

Ibu, hati ini terasa mekar ketika mendengar suaramu yang mulai serak walaupun hanya di ujung telepon selular. Suaramu yang serak tidak tergantikan dengan suara orang lain walaupun lebih merdu dan indah..
Setahun yang lalu, di saat Ramadhan, kudengar kabar dari adik, kalau engkau mengalami kecelakaan. Gemuruh hati di kala itu begitu tak bisa kukendalikan. Rasa sedih, rasa rindu berkecamuk menjadi satu, sehingga di sujud-sujud ku wajahmu senantiasa hadir. Setahun sebelumnya anakmu ini pamit untuk menjemput rezeki di kota jakarta ini. Hanya tautan komunikasi yang senantiasa menyambung tali silaturahim di antara kita.

Ketika kabar sedih itu datang, tak kuasa kaki ini ingin melangkah pulang ke rumah, menemuimu, mendekapmu, membantumu…Tapi lagi-lagi suara serak itu bernada “Jangan Nak, insya Allah mama masih kuat”. Yah, saya tahu di kala itu, engkau sedang menahan perihnya sakit yang engkau derita. Di saat itu, engkau sedang menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan, tapi lagi-lagi engkau masih mau menyembunyikannya dari penglihatan anak-anakmu.

Di saat operasi menjelang, engkau hanya meminta agar didoakan supaya Allah memberikan kekuatan dan kesehatan. Padahal tidak hanya itu, engkau butuh selain itu tapi tidak kau utarakan. Di saat itu, siang dan malam ku hanya dihiasi dengan keingintahuan mendengar kabar dari mu, Ibu….

Di saat liburan pun, waktu 10 hari tidaklah cukup untuk menggantikan saat dimana saya tidak bisa berada di sampingmu ketika engkau sakit. Di saat itu pulang kembali ke jakarta adalah waktu-waktu yang sulit. Meninggalkanmu dengan sakit yang masih engkau rasakan.

Ramadhan 1429 Hijriyah, tepat setahun setelah engkau menjalani operasi. Kini kondisimu sudah mulai membaik walaupun rasa sakit itu kadang terasa. .

Ibu, sosok perempuan yang tidak tergantikan oleh siapapun dalam hidupku. Sosok yang senantiasa hadir sebagai solusi di setiap masalah yang lagi saya alami. .

Ibu, engkaulah tempat persinggahan hatiku. Ketika ingin bicara dengan ayah, maka engkaulah orang pertama yang saya beritahu. .

Ibu, engkaulah palabuhan hatiku, di saat kapal harapan ini karam, maka engkaulah tempat berlabuhku. Di saat hidup ini terasa samar dan hampa, maka engkaulah yang menjadi pelita penyemangat. Engkau selalu hadir di saat saya membutuhkan. Engkau senantiasa mendengarkan setiap kesah dari anakmu ini. .
Lautan luas yang membentang di antara kita, bukanlah jarak yang jauh untuk sampainya doa-doa darimu di setiap waktu. .

Maka pantaslah ketika Rasulullah SAW menempatkan sosok ibu sebagai orang pertama yang harus kita cintai, hormati dan sayangi sepanjang waktu..

Teriring doa dan rindu dariku, anakmu yang masih sering nakal, untuk sosok perempuan yang nun jauh disana, tetapi selalu lekat dalam doa dan hati. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang berkah bagi engkau, ibuku, pelabuhan hatiku, pelita penyemangatku.

Kalibata, Dzulhijjah

*Tulisan lawas dan dimuat di http://www.eramuslim.com/oase-iman/ibu-engkaulah-pelabuhan-hatiku.htm#.V5rkhKKYJOg pada tanggal 12 Dzulhijjah 1429 H.

Yang Tegar di Jalan Jomblo

Tulisan lawas yang insya Allah masih relevan dengan kondisi kekinian.

Saya kira tidak banyak saudara saya yang masih berada di posisi jomblo alias single status (meminjam bahasanya “aktifis” facebook). Tapi di antara jombloers, tidak banyak pula yang mampu ‘tegar’ berada di jalan jomblo. ‘Tegar’ yang saya maksudkan disini adalah kondisi insan yang tetap tegak di atas jalanNya, menjaga rambu-rambuNya, terlebih ketika mereka dalam posisi “jomblo”. Saya ungkapkan demikian, karena lingkungan sekeliling saya memberikan gambaran bahwa ternyata adab bangsa kita sebagai bangsa timur sudah mulai bergeser. Satu demi satu norma mulai ditinggalkan oleh segelintir orang yang menjunjung budaya hedonisme-materialisme dalam kehidupan mereka.

Kalau di zaman doeloe (dengar cerita dari seorang sepuh) seorang ayah atau ibu akan sangat malu ketika melihat anaknya jalan berduaan dengan bukan mahramnya. Sayangnya, kenyataan yang kita temui sekarang, beberapa orang tua malah “bangga” kalau anaknya digandeng dengan orang yang bukan mahramnya. Bahkan yang lebih miris lagi, ketika mereka sangat khawatir kalau sampai anaknya belum punya gandengan di usia muda mereka. Budaya barat yang diadopsi oleh sebagian kaum muda telah menjadikan mereka jauh dari adat bangsanya, dan jauh dari nilai-nilai agamanya. Sedih dan miris melihat kenyataan yang ada.

Di sisi lain, adalah tidak mudah untuk tetap tegar di atas syari’atNya dalam keadaan jomblo. Mudahnya akses informasi, beragamnya pergaulan dan semakin menurunnya kontrol orang tua menjadi beberapa sebab sehingga hanya sebagian saja pemuda/i yang mampu tegar di jalan jomblo. Karena begitu beratnya tetap tegar di atas jalan jomblo, ada beberapa tuntunan yang dapat memandu kita agar tetap tegar di jalan jomblo.

Pertama, membiasakan amal-amal shalih, khususnya puasa, baik itu puasa sunnah, apalagi puasa wajib. Sebagaimana disampaikan Rasul SAW

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari)

Membiasakan berpuasa sunnah adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menekan syahwat, menjaga diri, dan membatasi gerak syaithan mempengaruhi diri kita. Dalam keadaan berpuasa, maka pembuluh darah manusia sebagai tempat masuknya syaithan akan semakin sempit sehingga jalan masuk syaithan menjadi lebih terbatas. Hal ini tentunya akan menjaga shaimin/at (orang yang berpuasa) dari perbuatan2 yang diharamkan oleh Allah SWT.

Kedua, mengisi aktifitas kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak hal yang kita dapat lakukan untuk mengisi waktu luang kita seperti aktif di pengajian dan ta’lim, menjadi aktifis organisasi, penggiat di aktfitas olahraga, penuntut ilmu, serta memanfaatkan waktu luang untuk bekerja mencari nafkah. Aktifitas-aktifitas yang padat itu tentunya akan mengalihkan perhatian jombloer dari perbuatan yang sia-sia atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan. Lain halnya, jika kita memiliki banyak waktu luang, tapi tidak kita manfaatkan dengan bijak, maka peluang tergelincir akan semakin mudah.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang shalih atau mencari lingkungan yang baik. Tidak dapat dipungkiri lagi, kalau teman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pribadi kita. Hal ini juga telah diingatkan oleh Rasul SAW

“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Fitrah manusia memang cenderung ingin meniru tingkah laku dan kebiasaan temannya. Teman yang baik memberikan pembiasaan yang baik, dan teman yang buruk niscaya sedikit demi sedikit menularkan keburukannya pula. Teman merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dengan kata lain, seseorang tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.

“Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya ” (HR.Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi & Hakim).

Kita kadang melihat bagaimana seseorang memakai narkoba karena terpengaruh ajakan temannya. Atau seorang pemuda yang terjebak dalam kehidupan dan seks bebas karena pengaruh dari teman dekatnya serta contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih teman pergaulan. Teman yang baik adalah teman yang mau dan mampu mengingatkan temannya untuk taat kepada Allah, berbuat amal kebaikan, dan menjaga temannya tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Demikianlah beberapa tuntunan agar seorang pemuda/i mampu tegar berada di jalan jomblo, tegak dan istiqamah di atas syari’at Rabbnya.

Jomblo bukanlah sesuatu yang harus disesali dan membuat diri kita malu, tapi posisi jomblo adalah kesempatan beramal dan belajar serta berlatih sebelum amanah besar berikutnya dititipkan di pundak kita.

Ada nasihat seseorang yang perlu kita renungkan, “Saya jomblo bukan karena apa atau karena siapa, tapi saya jomblo karena Allah. Saya ingin menjaga diri saya hingga tiba saatnya kehalalan nyata bagi diri saya”.
 
Subhaanallaah wa baarakallaahu fiikum.

Wallahu a’lam.

Kota Daeng, 24 Dzulhijjah 1430 H


Biidznillah, tulisan ini dimuat di media Insan Kamil Masjid Baitul Maal (MBM) STAN Jakarta

Sunday, July 24, 2016

Pelajar dan Agen Budaya di Bumi Sakura


International University of Japan (IUJ) adalah salah satu kampus yang terletak di Prefektur Niigata, Jepang. Di tahun akademik 2015/2016, sebanyak 26 orang mahasiswa Indonesia melanjutkan studi di kampus IUJ. Hal yang lumrah sekaligus membanggakan bagi sekumpulan mahasiswa Indonesia ketika diberikan kesempatan untuk mempresentasikan budaya khas Indonesia di antara komunitas internasional yang majemuk. Walaupun disibukkan dengan kegiatan diskusi, belajar, dan berorganisasi, mahasiswa Indonesia di IUJ juga ikut berpartisipasi untuk memperkenalkan budaya Indonesia di setiap event yang diselenggarakan di dalam dan di luar kampus. Komunitas mahasiswa Indonesia berusaha untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui ragam tarian, pakaian dan kuliner khas nusantara.

Selama setahun terakhir, mahasiswa Indonesia telah ikut berpartisipasi dan diundang di beberapa event. Bulan November 2015, mahasiswa Indonesia menampilkan kebudayaan Indonesia melalui tarian sajojo di tengah komunitas internasional, termasuk komunitas lokal Jepang. Apik, meriah, atraktif, dan unik dengan kostum serta penampilan yang diusahakan menyerupai tarian aslinya


Selain itu, Komunitas Mahasiswa Indonesia juga diundang untuk ikut berpartisipasi dalam International Friendship Festival di daerah Ojiya, Jepang. Dalam event tersebut, mahasiswa Indonesia tidak hanya menampilkan tarian Sajojo, tetapi juga menyajikan makanan khas Indonesia, opor ayam, bakwan goreng dan kerupuk. Ada rasa bangga dan puas ketika sahabat dari negara lain dapat menyaksikan serta menghormati budaya Indonesia.


Saat spring term (musim semi) tiba, komunitas Indonesia kembali berpartisipasi untuk memperkenalkan beberapa budaya nusantara melalui kompilasi tarian dari sejumlah daerah dan kuliner khas yang disajikan serta dijual dengan harga yang sangat terjangkau di International Festival 2016. Festival ini adalah kegiatan rutin tahunan kampus yang mengundang masyarakat untuk berkunjung di kegiatan Open Campus IUJ. Saat tersebut, kurang lebih ratusan orang hadir mewakili berbagai komunitas internasional dari benua Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika. Kampus ini memang dikenal dengan slogan Where the World Gathers yang menyiratkan makna bahwa mahasiswa di kampus IUJ berasal dari ratusan negara di seluruh dunia dan mewakili budaya negara mereka masing-masing.


Komunitas mahasiswa Indonesia mengajak serta mahasiswa dari negara lain untuk ikut dalam tarian tradisional Indonesia. Rekan-rekan mahasiwa dari Prancis, Malaysia, Jepang, Filipina dengan semangat dan bangga juga ikut terlibat dalam tarian tradisional Indonesia. Keterlibatan ini sekaligus disertai harapan bahwa ajang latihan dan performance menjadi cara kami memperkenalkan beragamnya budaya nusantara. Dalam International Festival 2016, mahasiswa Indonesia menampilkan kompilasi dari beberapa tarian nusantara seperti Tari Indang Badindin dari Sumatera Barat, Tari Tor-Tor dari Sumatera Utara, Tari Piring dari Sumatera Barat, Tari Sajojo dari Papua, Tari Jengger dari Bali serta Tari Poco-Poco dari Sulawesi Utara yang dirangkai dalam gerak Indonesia Menari versi Mahasiswa Indonesia di IUJ.


Selain itu, mahasiswa Indonesia beserta keluarga juga ikut membantu menyajikan kuliner Indonesia kepada para pengunjung festival. Soto ayam, es kopyor, dan bakwan menjadi menu sajian favorit. Hal ini terbukti dari lakunya terjual masakan tradisional tersebut dan dimuatnya stand Indonesia dalam koran lokal Jepang. Sambutan dan apresiasi dari komunitas internasional dan komunitas lokal Jepang menjadi hadiah tersendiri bagi usaha komunitas Indonesia memperkenalkan budaya Indonesia di tengah masyarakat yang berasal dari berbagai negara.


Bagi para pembaca yang ingin menyaksikan video  penampilan Indonesia dalam International Festival 2016 dapat mengunjungi tautan berikut https://www.youtube.com/watch?v=qDl0uOOxPgc

Berita terkait telah dimuat di www.detik.com pada tanggal 24 Juli 2016 di tautan berikut http://news.detik.com/berita/3259765/tari-sajojo-hingga-bakwan-goreng-dipromosikan-mahasiswa-indonesia-di-niigata?_ga=1.57356460.781554562.1444874965






Saturday, July 23, 2016

Muslim, Melejitlah!

Ba’da tahmid dan shalawat
Allah berfirman dalam Surah Al Mulk : 2
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Dalam ayat ini, menurut penulis, Allah tidaklah sia-sia menciptakan adanya kehidupan dan kematian bagi makhlukNya. Allah menginginkan makhlukNya untuk senantiasa berlomba-lomba mempersembahkan amalan terbaiknya dalam setiap detik dan tarikan nafas yang diberikan Allah SWT. Tidak ada sesuatu yang diberikan oleh Allah yang sia-sia, melainkan ada hikmah terbesar di baliknya, dan salah satunya hidup dan mati seorang hamba.
Bagi seorang muslim, sangtlah penting untuk menjadi muslim yang produktif, muslim dengan amalan terbaik, muslim dengan potensi terbaik yang senantiasa di arahkan kepada penghambaan kepada Allah SWT.

Ada 2 alasan mengapa seorang muslim harus produktif :
1. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan berbagai macam potensi, dan merupakan hal yang asasi ketika seorang muslim ingin memiliki berbagai atau satu potensi dalam dirinya.

2. Seorang muslim adalah makhluk sosial yang saling mengisi satu sama lain, yang saling memberi manfaat dalam hidupnya. Luar biasa akhi fillah rahimakumullah ketika Allah memberikan sifat sosial di diri seorang muslim. Maka dengan produktivitasnya, seorang muslim akan sangat diharapkan kehadirannya di tengah makhluk Allah di muka bumi.

Jangan seperti “wujuduhu ka ‘adamihi”
Muslim yang terbaik bukanlah muslim yang eksistensinya tidak diperhitungkan di tengah masyarakat.
Muslim yang produktif adalah muslim yang kehadirannya senantiasa ditunggu-tunggu, dan eksistensinya memberikan hal-hal yang positif untuk saudaranya.

Setidaknya ada 3 jenis produktivitas dalam Islam :
1. Produktivitas dalam hal ubudiyah, hubungan vertikal dengan Allah SWT.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS, Adz Dzariyat:56)
Produktif dalam hal ini merupakan hal yang esensi dalam penciptaan makhluk. Produktif dalam hal ubudiyah, meliputi segi kualitas ibadah dan kuantitas ibadah sesuai Al Qur’an dan As Sunnah.Seorang muslim yang produktif, akan senantiasa memperbaiki kualitas ibadahnya guna mempersembahkan amalah terbaik di hadapan Rabb nya. Seorang muslim yang produktif akan senantiasa berlomba-lomba menggapai ridho Ilahi dengan senantiasa melakukan perbaikan terhadap hubungannya dengan Sang Khaliq, Allah Azza wa jalla

2. Produktivitas diri sendiri
Muslim yang produktif tentunya punya visi ke depan, punya mimpi besar, punya harapan besar untuk dirinya. Bagi muslim2 yang produktif, mimpi besar itu takkan mudah tercapai ketika dirinya masih menjadi orang yang biasa saja. Muslim yang produktif akan berupaya agar dapat mewujudkan mimpi besarnya dengan menghadirkan potensi dirinya yang selalu optimal dalam tiap aktivitasnya. Manajemen diri, perbaikan diri, upgrading kafa’ah dan profesionalitas dijadikan sebagai wasilah guna menjadi muslim yang produktif. Demikian pula dengan da’wah ini, di saat negara kita butuh solusi, maka muslim yang produktif akan hadir dengan segala kapasitas dan profesionalitasnya yang tentunya akan menjadi solusi bagi problematika bangsa ini.

3. Produktivitas terhadap sesama manusia
Manusia yang terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain (Al Hadits). Ketika produktivitas hanya berhenti pada pribadi dan nilai Ilahiyah, maka produktivitas itu tidak akan ada gunanya. Sesungguhnya masyarakat dan bangsa ini membutuhkan hadirnya muslim yang produktif yang akan memberikan manfaat nya kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Masyarakat butuh aksi, bukan janji
Masyarakat kita kini berada di persimpangan jalan. Pengaruh eksternal sudah semakin menggerayangi bangsa kita dengan berbagai macam dampak. Infiltrasi budaya barat, ekspansi isme-isme yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sudah semakin menjauhkan bangsa ini dari agamanya. Solusi konkrit dari problematika bangsa ini adalah hadirnya muslim yang produktif yang akan memberikan kontribusi positif guna perbaikan bangsa ini. Bangsa kita tidak butuh janji yang muluk tetapi butuh aksi nyata dari seorang muslim, khususnya para kader da’wah.
Ikhwah fillah rahimakumullah
Disaat bangsa ini butuh solusi maka
Hai Muslim, melejitlah !