22 Desember adalah hari yang diperingati oleh sebagian besar bangsa
kita sebagai hari ibu. Hari yang tidak hanya sekadar seremonial belaka,
tetapi hari yang setiap harinya harus kita peringati sembari berbakti
kepada sang ibunda tercinta.
Yah, Ibu, sosok manusia yang pertama kali menyapa ku ketika hadir di
dunia. Sosok wanita, yang tak henti-hentinya berada di belakang saya, di
saat saya butuh dukungan dan tempat bersandar. Beliau berada di depan,
ketika saya butuh panduan dan bimbingan serta nasihat
Ibu, hati ini terasa mekar ketika mendengar suaramu yang mulai serak
walaupun hanya di ujung telepon selular. Suaramu yang serak tidak
tergantikan dengan suara orang lain walaupun lebih merdu dan indah..
Setahun yang lalu, di saat Ramadhan, kudengar kabar dari adik, kalau
engkau mengalami kecelakaan. Gemuruh hati di kala itu begitu tak bisa
kukendalikan. Rasa sedih, rasa rindu berkecamuk menjadi satu, sehingga
di sujud-sujud ku wajahmu senantiasa hadir. Setahun sebelumnya anakmu
ini pamit untuk menjemput rezeki di kota jakarta ini. Hanya tautan
komunikasi yang senantiasa menyambung tali silaturahim di antara kita.
Ketika kabar sedih itu datang, tak kuasa kaki ini ingin melangkah
pulang ke rumah, menemuimu, mendekapmu, membantumu…Tapi lagi-lagi suara
serak itu bernada “Jangan Nak, insya Allah mama masih kuat”. Yah, saya
tahu di kala itu, engkau sedang menahan perihnya sakit yang engkau
derita. Di saat itu, engkau sedang menangis karena rasa sakit yang tak
tertahankan, tapi lagi-lagi engkau masih mau menyembunyikannya dari
penglihatan anak-anakmu.
Di saat operasi menjelang, engkau hanya meminta agar didoakan supaya
Allah memberikan kekuatan dan kesehatan. Padahal tidak hanya itu, engkau
butuh selain itu tapi tidak kau utarakan. Di saat itu, siang dan malam
ku hanya dihiasi dengan keingintahuan mendengar kabar dari mu, Ibu….
Di saat liburan pun, waktu 10 hari tidaklah cukup untuk menggantikan
saat dimana saya tidak bisa berada di sampingmu ketika engkau sakit. Di
saat itu pulang kembali ke jakarta adalah waktu-waktu yang sulit.
Meninggalkanmu dengan sakit yang masih engkau rasakan.
Ramadhan 1429 Hijriyah, tepat setahun setelah engkau menjalani
operasi. Kini kondisimu sudah mulai membaik walaupun rasa sakit itu
kadang terasa. .
Ibu, sosok perempuan yang tidak tergantikan oleh siapapun dalam
hidupku. Sosok yang senantiasa hadir sebagai solusi di setiap masalah
yang lagi saya alami. .
Ibu, engkaulah tempat persinggahan hatiku. Ketika ingin bicara dengan ayah, maka engkaulah orang pertama yang saya beritahu. .
Ibu, engkaulah palabuhan hatiku, di saat kapal harapan ini karam,
maka engkaulah tempat berlabuhku. Di saat hidup ini terasa samar dan
hampa, maka engkaulah yang menjadi pelita penyemangat. Engkau selalu
hadir di saat saya membutuhkan. Engkau senantiasa mendengarkan setiap
kesah dari anakmu ini. .
Lautan luas yang membentang di antara kita, bukanlah jarak yang jauh untuk sampainya doa-doa darimu di setiap waktu. .
Maka pantaslah ketika Rasulullah SAW menempatkan sosok ibu sebagai
orang pertama yang harus kita cintai, hormati dan sayangi sepanjang
waktu..
Teriring doa dan rindu dariku, anakmu yang masih sering nakal, untuk
sosok perempuan yang nun jauh disana, tetapi selalu lekat dalam doa dan
hati. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang berkah bagi
engkau, ibuku, pelabuhan hatiku, pelita penyemangatku.
Kalibata, Dzulhijjah
*Tulisan lawas dan dimuat di http://www.eramuslim.com/oase-iman/ibu-engkaulah-pelabuhan-hatiku.htm#.V5rkhKKYJOg pada tanggal 12 Dzulhijjah 1429 H.
Thursday, July 28, 2016
Yang Tegar di Jalan Jomblo
Tulisan lawas yang insya Allah masih relevan dengan kondisi kekinian.
Subhaanallaah wa baarakallaahu fiikum.
Wallahu a’lam.
Kota Daeng, 24 Dzulhijjah 1430 H
Biidznillah, tulisan ini dimuat di media Insan Kamil Masjid Baitul Maal (MBM) STAN Jakarta
Saya kira tidak banyak saudara saya yang masih berada di posisi jomblo alias single status (meminjam bahasanya “aktifis” facebook). Tapi di antara jombloers,
tidak banyak pula yang mampu ‘tegar’ berada di jalan jomblo. ‘Tegar’
yang saya maksudkan disini adalah kondisi insan yang tetap tegak di atas
jalanNya, menjaga rambu-rambuNya, terlebih ketika mereka dalam posisi
“jomblo”. Saya ungkapkan demikian, karena lingkungan sekeliling saya
memberikan gambaran bahwa ternyata adab bangsa kita sebagai bangsa timur
sudah mulai bergeser. Satu demi satu norma mulai ditinggalkan oleh
segelintir orang yang menjunjung budaya hedonisme-materialisme dalam
kehidupan mereka.
Kalau di zaman doeloe
(dengar cerita dari seorang sepuh) seorang ayah atau ibu akan sangat
malu ketika melihat anaknya jalan berduaan dengan bukan mahramnya.
Sayangnya, kenyataan yang kita temui sekarang, beberapa orang tua malah
“bangga” kalau anaknya digandeng dengan orang yang bukan mahramnya.
Bahkan yang lebih miris lagi, ketika mereka sangat khawatir kalau sampai
anaknya belum punya gandengan di usia muda mereka. Budaya barat yang
diadopsi oleh sebagian kaum muda telah menjadikan mereka jauh dari adat
bangsanya, dan jauh dari nilai-nilai agamanya. Sedih dan miris melihat
kenyataan yang ada.
Di sisi lain, adalah tidak mudah untuk tetap tegar di atas syari’atNya dalam keadaan jomblo. Mudahnya akses informasi, beragamnya pergaulan dan semakin menurunnya kontrol orang tua menjadi beberapa sebab sehingga hanya sebagian saja pemuda/i yang mampu tegar di jalan jomblo. Karena begitu beratnya tetap tegar di atas jalan jomblo, ada beberapa tuntunan yang dapat memandu kita agar tetap tegar di jalan jomblo.
Pertama, membiasakan amal-amal shalih, khususnya puasa, baik itu puasa sunnah, apalagi puasa wajib. Sebagaimana disampaikan Rasul SAW
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari)
Membiasakan berpuasa sunnah adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menekan syahwat, menjaga diri, dan membatasi gerak syaithan mempengaruhi diri kita. Dalam keadaan berpuasa, maka pembuluh darah manusia sebagai tempat masuknya syaithan akan semakin sempit sehingga jalan masuk syaithan menjadi lebih terbatas. Hal ini tentunya akan menjaga shaimin/at (orang yang berpuasa) dari perbuatan2 yang diharamkan oleh Allah SWT.
Kedua, mengisi aktifitas kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak hal yang kita dapat lakukan untuk mengisi waktu luang kita seperti aktif di pengajian dan ta’lim, menjadi aktifis organisasi, penggiat di aktfitas olahraga, penuntut ilmu, serta memanfaatkan waktu luang untuk bekerja mencari nafkah. Aktifitas-aktifitas yang padat itu tentunya akan mengalihkan perhatian jombloer dari perbuatan yang sia-sia atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan. Lain halnya, jika kita memiliki banyak waktu luang, tapi tidak kita manfaatkan dengan bijak, maka peluang tergelincir akan semakin mudah.
Ketiga, bergaul dengan orang-orang shalih atau mencari lingkungan yang baik. Tidak dapat dipungkiri lagi, kalau teman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pribadi kita. Hal ini juga telah diingatkan oleh Rasul SAW
“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).
Fitrah manusia memang cenderung ingin meniru tingkah laku dan kebiasaan temannya. Teman yang baik memberikan pembiasaan yang baik, dan teman yang buruk niscaya sedikit demi sedikit menularkan keburukannya pula. Teman merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dengan kata lain, seseorang tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.
“Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya ” (HR.Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi & Hakim).
Kita kadang melihat bagaimana seseorang memakai narkoba karena terpengaruh ajakan temannya. Atau seorang pemuda yang terjebak dalam kehidupan dan seks bebas karena pengaruh dari teman dekatnya serta contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih teman pergaulan. Teman yang baik adalah teman yang mau dan mampu mengingatkan temannya untuk taat kepada Allah, berbuat amal kebaikan, dan menjaga temannya tidak terjerumus dalam kemaksiatan.
Demikianlah beberapa tuntunan agar seorang pemuda/i mampu tegar berada di jalan jomblo, tegak dan istiqamah di atas syari’at Rabbnya.
Jomblo bukanlah sesuatu yang harus disesali dan membuat diri kita malu, tapi posisi jomblo adalah kesempatan beramal dan belajar serta berlatih sebelum amanah besar berikutnya dititipkan di pundak kita.
Ada nasihat seseorang yang perlu kita renungkan, “Saya jomblo bukan karena apa atau karena siapa, tapi saya jomblo karena Allah. Saya ingin menjaga diri saya hingga tiba saatnya kehalalan nyata bagi diri saya”.
Di sisi lain, adalah tidak mudah untuk tetap tegar di atas syari’atNya dalam keadaan jomblo. Mudahnya akses informasi, beragamnya pergaulan dan semakin menurunnya kontrol orang tua menjadi beberapa sebab sehingga hanya sebagian saja pemuda/i yang mampu tegar di jalan jomblo. Karena begitu beratnya tetap tegar di atas jalan jomblo, ada beberapa tuntunan yang dapat memandu kita agar tetap tegar di jalan jomblo.
Pertama, membiasakan amal-amal shalih, khususnya puasa, baik itu puasa sunnah, apalagi puasa wajib. Sebagaimana disampaikan Rasul SAW
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari)
Membiasakan berpuasa sunnah adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menekan syahwat, menjaga diri, dan membatasi gerak syaithan mempengaruhi diri kita. Dalam keadaan berpuasa, maka pembuluh darah manusia sebagai tempat masuknya syaithan akan semakin sempit sehingga jalan masuk syaithan menjadi lebih terbatas. Hal ini tentunya akan menjaga shaimin/at (orang yang berpuasa) dari perbuatan2 yang diharamkan oleh Allah SWT.
Kedua, mengisi aktifitas kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak hal yang kita dapat lakukan untuk mengisi waktu luang kita seperti aktif di pengajian dan ta’lim, menjadi aktifis organisasi, penggiat di aktfitas olahraga, penuntut ilmu, serta memanfaatkan waktu luang untuk bekerja mencari nafkah. Aktifitas-aktifitas yang padat itu tentunya akan mengalihkan perhatian jombloer dari perbuatan yang sia-sia atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan. Lain halnya, jika kita memiliki banyak waktu luang, tapi tidak kita manfaatkan dengan bijak, maka peluang tergelincir akan semakin mudah.
Ketiga, bergaul dengan orang-orang shalih atau mencari lingkungan yang baik. Tidak dapat dipungkiri lagi, kalau teman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pribadi kita. Hal ini juga telah diingatkan oleh Rasul SAW
“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).
Fitrah manusia memang cenderung ingin meniru tingkah laku dan kebiasaan temannya. Teman yang baik memberikan pembiasaan yang baik, dan teman yang buruk niscaya sedikit demi sedikit menularkan keburukannya pula. Teman merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dengan kata lain, seseorang tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.
“Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya ” (HR.Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi & Hakim).
Kita kadang melihat bagaimana seseorang memakai narkoba karena terpengaruh ajakan temannya. Atau seorang pemuda yang terjebak dalam kehidupan dan seks bebas karena pengaruh dari teman dekatnya serta contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih teman pergaulan. Teman yang baik adalah teman yang mau dan mampu mengingatkan temannya untuk taat kepada Allah, berbuat amal kebaikan, dan menjaga temannya tidak terjerumus dalam kemaksiatan.
Demikianlah beberapa tuntunan agar seorang pemuda/i mampu tegar berada di jalan jomblo, tegak dan istiqamah di atas syari’at Rabbnya.
Jomblo bukanlah sesuatu yang harus disesali dan membuat diri kita malu, tapi posisi jomblo adalah kesempatan beramal dan belajar serta berlatih sebelum amanah besar berikutnya dititipkan di pundak kita.
Ada nasihat seseorang yang perlu kita renungkan, “Saya jomblo bukan karena apa atau karena siapa, tapi saya jomblo karena Allah. Saya ingin menjaga diri saya hingga tiba saatnya kehalalan nyata bagi diri saya”.
Subhaanallaah wa baarakallaahu fiikum.
Wallahu a’lam.
Kota Daeng, 24 Dzulhijjah 1430 H
Biidznillah, tulisan ini dimuat di media Insan Kamil Masjid Baitul Maal (MBM) STAN Jakarta
Sunday, July 24, 2016
Pelajar dan Agen Budaya di Bumi Sakura
International University of Japan
(IUJ) adalah salah satu kampus yang terletak di Prefektur Niigata, Jepang. Di
tahun akademik 2015/2016, sebanyak 26 orang mahasiswa Indonesia melanjutkan
studi di kampus IUJ. Hal yang lumrah sekaligus membanggakan bagi sekumpulan
mahasiswa Indonesia ketika diberikan kesempatan untuk mempresentasikan budaya
khas Indonesia di antara komunitas internasional yang majemuk. Walaupun
disibukkan dengan kegiatan diskusi, belajar, dan berorganisasi, mahasiswa
Indonesia di IUJ juga ikut berpartisipasi untuk memperkenalkan budaya Indonesia
di setiap event yang diselenggarakan di dalam dan di luar kampus.
Komunitas mahasiswa Indonesia berusaha untuk memperkenalkan budaya Indonesia
melalui ragam tarian, pakaian dan kuliner khas nusantara.
Selama setahun terakhir, mahasiswa Indonesia telah ikut berpartisipasi dan diundang di beberapa event. Bulan November 2015, mahasiswa Indonesia menampilkan kebudayaan Indonesia melalui tarian sajojo di tengah komunitas internasional, termasuk komunitas lokal Jepang. Apik, meriah, atraktif, dan unik dengan kostum serta penampilan yang diusahakan menyerupai tarian aslinya
Selain itu, Komunitas Mahasiswa Indonesia juga diundang
untuk ikut berpartisipasi dalam International
Friendship Festival di daerah Ojiya, Jepang. Dalam event tersebut, mahasiswa Indonesia tidak hanya menampilkan tarian
Sajojo, tetapi juga menyajikan makanan khas Indonesia, opor ayam, bakwan goreng
dan kerupuk. Ada rasa bangga dan puas ketika sahabat dari negara lain dapat
menyaksikan serta menghormati budaya Indonesia.
Saat spring term (musim semi) tiba, komunitas Indonesia kembali berpartisipasi untuk memperkenalkan beberapa budaya nusantara melalui kompilasi tarian dari sejumlah daerah dan kuliner khas yang disajikan serta dijual dengan harga yang sangat terjangkau di International Festival 2016. Festival ini adalah kegiatan rutin tahunan kampus yang mengundang masyarakat untuk berkunjung di kegiatan Open Campus IUJ. Saat tersebut, kurang lebih ratusan orang hadir mewakili berbagai komunitas internasional dari benua Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika. Kampus ini memang dikenal dengan slogan Where the World Gathers yang menyiratkan makna bahwa mahasiswa di kampus IUJ berasal dari ratusan negara di seluruh dunia dan mewakili budaya negara mereka masing-masing.
Komunitas mahasiswa Indonesia mengajak serta mahasiswa dari negara lain untuk ikut dalam tarian tradisional Indonesia. Rekan-rekan mahasiwa dari Prancis, Malaysia, Jepang, Filipina dengan semangat dan bangga juga ikut terlibat dalam tarian tradisional Indonesia. Keterlibatan ini sekaligus disertai harapan bahwa ajang latihan dan performance menjadi cara kami memperkenalkan beragamnya budaya nusantara. Dalam International Festival 2016, mahasiswa Indonesia menampilkan kompilasi dari beberapa tarian nusantara seperti Tari Indang Badindin dari Sumatera Barat, Tari Tor-Tor dari Sumatera Utara, Tari Piring dari Sumatera Barat, Tari Sajojo dari Papua, Tari Jengger dari Bali serta Tari Poco-Poco dari Sulawesi Utara yang dirangkai dalam gerak Indonesia Menari versi Mahasiswa Indonesia di IUJ.
Selain itu, mahasiswa Indonesia beserta keluarga juga ikut membantu menyajikan kuliner Indonesia kepada para pengunjung festival. Soto ayam, es kopyor, dan bakwan menjadi menu sajian favorit. Hal ini terbukti dari lakunya terjual masakan tradisional tersebut dan dimuatnya stand Indonesia dalam koran lokal Jepang. Sambutan dan apresiasi dari komunitas internasional dan komunitas lokal Jepang menjadi hadiah tersendiri bagi usaha komunitas Indonesia memperkenalkan budaya Indonesia di tengah masyarakat yang berasal dari berbagai negara.
Bagi para pembaca yang ingin menyaksikan video penampilan Indonesia dalam International Festival 2016 dapat
mengunjungi tautan berikut https://www.youtube.com/watch?v=qDl0uOOxPgc
Berita terkait telah dimuat di www.detik.com pada tanggal 24 Juli 2016 di tautan berikut http://news.detik.com/berita/3259765/tari-sajojo-hingga-bakwan-goreng-dipromosikan-mahasiswa-indonesia-di-niigata?_ga=1.57356460.781554562.1444874965
Saturday, July 23, 2016
Muslim, Melejitlah!
Ba’da tahmid dan
shalawat
Allah berfirman
dalam Surah Al Mulk : 2
Yang menjadikan mati
dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Dalam ayat ini,
menurut penulis, Allah tidaklah sia-sia menciptakan adanya kehidupan dan
kematian bagi makhlukNya. Allah menginginkan makhlukNya untuk senantiasa
berlomba-lomba mempersembahkan amalan terbaiknya dalam setiap detik dan tarikan
nafas yang diberikan Allah SWT. Tidak ada sesuatu yang diberikan oleh Allah
yang sia-sia, melainkan ada hikmah terbesar di baliknya, dan salah satunya
hidup dan mati seorang hamba.
Bagi seorang muslim,
sangtlah penting untuk menjadi muslim yang produktif, muslim dengan amalan
terbaik, muslim dengan potensi terbaik yang senantiasa di arahkan kepada
penghambaan kepada Allah SWT.
Ada 2 alasan mengapa
seorang muslim harus produktif :
1. Manusia adalah
makhluk yang diciptakan Allah dengan berbagai macam potensi, dan merupakan hal
yang asasi ketika seorang muslim ingin memiliki berbagai atau satu potensi
dalam dirinya.
2. Seorang muslim
adalah makhluk sosial yang saling mengisi satu sama lain, yang saling memberi
manfaat dalam hidupnya. Luar biasa akhi
fillah rahimakumullah ketika Allah memberikan sifat sosial di diri seorang
muslim. Maka dengan produktivitasnya, seorang muslim akan sangat diharapkan
kehadirannya di tengah makhluk Allah di muka bumi.
Jangan seperti
“wujuduhu ka ‘adamihi”
Muslim yang terbaik
bukanlah muslim yang eksistensinya tidak diperhitungkan di tengah masyarakat.
Muslim yang
produktif adalah muslim yang kehadirannya senantiasa ditunggu-tunggu, dan
eksistensinya memberikan hal-hal yang positif untuk saudaranya.
Setidaknya ada 3
jenis produktivitas dalam Islam :
1. Produktivitas
dalam hal ubudiyah, hubungan vertikal dengan Allah SWT.
“Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS,
Adz Dzariyat:56)
Produktif dalam hal
ini merupakan hal yang esensi dalam penciptaan makhluk. Produktif dalam hal
ubudiyah, meliputi segi kualitas ibadah dan kuantitas ibadah sesuai Al Qur’an
dan As Sunnah.Seorang muslim yang produktif, akan senantiasa memperbaiki
kualitas ibadahnya guna mempersembahkan amalah terbaik di hadapan Rabb nya.
Seorang muslim yang produktif akan senantiasa berlomba-lomba menggapai ridho
Ilahi dengan senantiasa melakukan perbaikan terhadap hubungannya dengan Sang
Khaliq, Allah Azza wa jalla
2. Produktivitas
diri sendiri
Muslim yang
produktif tentunya punya visi ke depan, punya mimpi besar, punya harapan besar
untuk dirinya. Bagi muslim2 yang produktif, mimpi besar itu takkan mudah
tercapai ketika dirinya masih menjadi orang yang biasa saja. Muslim yang
produktif akan berupaya agar dapat mewujudkan mimpi besarnya dengan
menghadirkan potensi dirinya yang selalu optimal dalam tiap aktivitasnya.
Manajemen diri, perbaikan diri, upgrading
kafa’ah dan profesionalitas dijadikan sebagai wasilah guna menjadi muslim
yang produktif. Demikian pula dengan da’wah ini, di saat negara kita butuh
solusi, maka muslim yang produktif akan hadir dengan segala kapasitas dan
profesionalitasnya yang tentunya akan menjadi solusi bagi problematika bangsa
ini.
3. Produktivitas
terhadap sesama manusia
Manusia yang terbaik
adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain (Al Hadits).
Ketika produktivitas hanya berhenti pada pribadi dan nilai Ilahiyah, maka
produktivitas itu tidak akan ada gunanya. Sesungguhnya masyarakat dan bangsa
ini membutuhkan hadirnya muslim yang produktif yang akan memberikan manfaat nya
kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Masyarakat butuh
aksi, bukan janji
Masyarakat kita kini
berada di persimpangan jalan. Pengaruh eksternal sudah semakin menggerayangi
bangsa kita dengan berbagai macam dampak. Infiltrasi budaya barat, ekspansi
isme-isme yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sudah semakin menjauhkan
bangsa ini dari agamanya. Solusi konkrit dari problematika bangsa ini adalah
hadirnya muslim yang produktif yang akan memberikan kontribusi positif guna
perbaikan bangsa ini. Bangsa kita tidak butuh janji yang muluk tetapi butuh
aksi nyata dari seorang muslim, khususnya para kader da’wah.
Ikhwah fillah
rahimakumullah
Disaat bangsa ini
butuh solusi maka
Hai Muslim,
melejitlah !
Sunday, July 17, 2016
Akar Penyakit Tercela
Ba'da tahmid dan
shalawat.
Ikhwatal iman
rahimakumullah...
Ibarat pohon, yang
memiliki daun, batang, cabang, dan akar maka dari bahagian akarlah semuanya
bermula.termasuk penyakit-penyakit akhlaq tercela yang kini sedang merasuk ke
dalam budaya kaum muslimin kebanyakan.
Ketika akar itu
kemudian bisa ditanamkan dengan baik dan memeliharanya, maka akar pohon itu
akan memberikan kehidupan bagi pohon tesebut.
Hal yang serupa
terjadi pada penyakit akhlaq yang dialami oleh manusia.
Ibnul Qayyim Al
jauziy dalam sebuah tulisannya, pernah membagi akar penyakit tercela ini
menjadi 2 bagian:
Pertama
Akar dari penyakit
tercela oleh Ibnul Qayyim, disebut berasal dari adanya penyakit
syubhat.Penyakit ini menyerang wilayah akal manusia.Penyakit ini akan
memunculkan rasa was-was ke dalam hati, fikiran dan keyakinan seorang yang
kemudian menggerogoti segala macam pemikiran, prilaku nya.Akar dari penyakit
ini akan menghasilkan cabang dan daun2 penyakit kesyirikan, kemunafikan dan
bid'ah. Dia akan merusak kefahaman manusia atas suatu masalah dalam syari'at
bahkan yang lebih parah menggelincirkan manusia ke alam kesyirikan.
Dalam Surah Ali
Imran : 7
Dia-lah yang
menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat
yang muhkamaat[183], itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat)
mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat
daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal
tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat,
semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Oleh Ibnul Qayyim Al
Jauziy, penyakit zaghwun didefinisikan sebagai kecenderungan manusia untuk
menyimpang.dan sebagai manusia yang hanif dari asasi penciptaannya maka Allah
pun menciptkan rasa kecondongan untuk menyimpang untuk manusia.
Ketika zaghwun ini
kemudian mendominasi wilayah akal manusuia, maka akan menggelincirkan dirinya
ke dalam jurang kemaksiatan.
Kedua
Akar penyakit tercela
yang kedua menurut Ibnul Qayyim, adalah penyakit syahwat. Penyakit syahwat ini
telah Allah ciptakan ketika manusia pertama lahir, dalam hal ini Nabi Adam a.s.
Kita tentunya masih
ingat peristiwa pertama kali seorang manusia menginjakkan kaki di bumi yang
diciptakan Allah.
Allah berfirman
dalam Surah Thaha: 115
Dan sesungguhnya
telah Kami perintahkan[947] kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah
itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.
Dan juga dalam Surah
Al Baqarah : 35
Dan Kami berfirman:
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan
janganlah kamu dekati pohon ini[37], yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim.
Syahwat dari seorang
manusia, Adam a.s., ketika peristiwa ini terjadi muncul dan langsung
mengakibatkan peristiwa terbesar yang terjadi di dunia, yakni di keluarkannya
Adam dari surga dan momen pertama kali manusia menginjakkan kaki ke bumi ini...
Dari syahwat, kemudian
memunculkan peristiwa besar..Luar biasa dampaknya...
Oleh Ibnul Qayyim,
beliau kemudian membagi penyakit syahwat ini menjadi beberapa akar penyakit
lain, yakni:
- Syahwat kekuasaan, yakni syahwat untuk mendapatkan kekuasaan, merebut kekuasaan, dan menguasai sesuatu.
- Syahwat binatang buas, yakni syahwat yang timbul dari munculnya sifat2 binatang buas dalam diri seorang manusia.Syahwat ini muncul ketika seorang manusia diberikan kelebihan dalam hal fisik oleh Allah sehingga kemudian syahwat binatang buas muncul dalm tindak tanduknya.Syahwat ini dapat berupa penjajahan, berbuat dzholim kepada saudara2nya, dan lain-lain.
- Syahwat binatang ternak. Syahwat ini paling mudah merasuk ke dalam manusia karena tidak butuh kelebihan2 dari segi akal, fisik maupun harta.merasuknya sifat-sifat binatang ternak dalam tubuh manusia kemudian melahirkan penyakit2 seperti penyakit rakus, suka membicarakan orang lain (ghibah) dll.
- Syahwat kesetanan, adalah syahwat yang muncul ketika seseorang diberikan Allah kelebihan dalam hal akal sehingga menggunakan akalnya untuk berbuat dzholim kepada saudaranya.Contoh sifat kesetanan, seperti sifat hasad, dengki, iri hati, sombong dan sifat2 syaithon yang lain.
Kesemua akar
penyakit inilah yang mungkin menjadi akar dari penyakit2 kaum muslimin saat
ini. Dan salah satu solusi yang ditawarkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab
Wabilus Shayyib adalah membiasakan hati ini dalam keadaan dzikrullah, mengingat
Allah dimanapun, kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
Rabbanaa Laatuzigh
quluubana ba'da idzhadaitana..
Hadanallaahu
waiiyakum ajma'in
Alhamdulillahi
rabbil 'alamin..
Subscribe to:
Posts (Atom)





